Minggu, 26 Maret 2017

Terjebak di Bandara(naike) di Negombo, Sri Lanka part 2-selesai



Saya terkejut ketika sebanyak lima pria berwajah melayu menghampiri saya. Mereka adalah mas-mas yang saya temui sebelumnya saat saya ditolak untuk check in.
“Oh, mas yang tadi? Bagaimana? Jadi berangkat?” tanya saya kepada mereka. (Mereka masih di Bandara berarti ya ditolak juga untuk terbang).
Ga jadi mas. Kami semua ditolak untuk terbang. Lha, mas sendiri gimana?” tanya mereka
“Iya, Mas sama! Saya juga gagal terbang. Sini saja dulu mas istriahat sebentar!” Saya mengajak mereka untuk duduk-duduk di bangku Bandara. 

Ada lima pemuda lajang (meraka mengaku begitu) asal Medan, Sumatera Utara. Mereka hendak melakukan perjalanan ke Istanbul, perjalanan ke luar negeri perdana mereka. Mereka pun berujar,
“Iya mas, kami mau ke Turki mau melihat salju. Kami sudah mengumpulkan uang sejak berbulan-bulan yang lalu untuk mewujudkan perjalanan ini. Kami akhirnya membeli jaket-jaket tebal untuk musim dingin dan sepatu baru karena saya dengar kalau salju itu berarti dingin sekali. Padahal hotel sudah kami bayar lunas semua. Saya bingung mau bagaimana ini. Selain itu saya juga tidak mempunyai uang saku yang banyak karena kami sudah mebayar ke agen perjalanan kami semua, mulai dari tiket hingga hotel. Jadi, kami membawa uang saku secukupnya saja untuk makan, transportasi, dan mungkin oleh-oleh.”

Mendengar curahan hati mereka saya merasa terharu dan bangga terhadapa mereka. Mereka masih terlihat tegar menghadapi masalah ini, masalah yang mungkin tidak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ke luar negri perdana, dan langsung terdampar di negara yang mereka sama sekali tidak tahu. Usut punya usut, dua dari lima pemuda ini bekerja di agen perjalanan yang memesankan tiket pesawat dan hotel.

para pemuda yang menemani saya
Saya pun menitipkan barang saya sejenak ke mereka karena saya akan ke kantor pihak Qatar Airways, di lantai dua. Saya berjalan santai dan mencoba untuk tegar. Setelah celingak-celinguk mencari ruangan yang mana, saya melihat sekumpulan orang. Saya pun menghampiri mereka. Ternyata, itu adalah ruangan Qatar Airways. Terlihat tidak kurang dari sepuluh orang mengalami nasib yang sama dengan saya. Saya pun mengikhlaskan kejadian ini dan segera turun untuk istirahat sebentar di bangku bandara.

“Bagaimana mas? Ada penyelesaian?” Tanya salah satu dari mereka. Saya pun menggelengkan kepala sebagai tanda jawaban tidak. Saya pun penasaran dengan masalah mereka, akhirnya saya beranikan bertanya,
“Kenapa sih mas kok dilarang terbang oleh Turkish Airlines?”
Saya lupa semua nama dari mereka, salah seorang yang paling dituakan menjawab, “Iya mas, katanya kami tidak memegang tiket balik ke Indonesia. Padahal kami sudah mendapatkan visa elektronik. Dan kami pun memegang tiket penerbangan pulang ke Medan dengan Saudia Airlines melalui Riyadh. Saya kurang paham mas kalau naik beda pesawat tidak boleh masuk di suatu negara, kami baru sekali jalan-jalan ke luar negri. Ke Singapura atau Malaysia saja belum pernah.” Mereka semakin mencurahkan uneg-uneg mereka.

Saya melihat kasus mereka sangat aneh sekali mengingat mereka sudah memegang tiket kembali ke Medan, walaupun dengan pesawat yang berbeda masih saja ditolak untuk masuk.
“Iya mas, kata mbak yang jaga konter tadi bilang harus naik Turkish Airlines, tidak boleh maskapai yang lain.” Mas tadi menambahkan.
Kembali semakin aneh kasus yang menimpa mereka. Kalau kasus saya, jelas dan saya memang yang bersalah. Tetapi, untuk kasus mereka sangat aneh sekali. Saya kembali berusaha menggali informasi dari mereka.

“Saya saja nih mas yang bisa berbahasa inggris, mereka semua kurang paham bahasa inggris. Bahasa inggris saya juga masih terbata-bata. Saya kurang terlalu paham apa yang dikatakan petugas konter tadi dan saya mau membela diri juga tidak tahu harus berkata apa.” Ujarnya
Wah, saya berasumsi bahwa mungkin terjadi kesalahpahaman karena faktor bahasa antara mereka. Mungkin saja mas ini salah mengartikan maksud petugas tadi serta petugas tadi juga tidak paham apa yang mas ini katakan. 

“Yowes Mas, ayo saya antarkan ke pihak Turkish Airlines, saya bantu untuk menjelaskan ke mereka biar masalahnya ada jalan keluarnya.” Paksa saya ke mereka.
Ga usah mas, nanti malah semakin besar masalahnya. Lagi pula ini sudah malam, sudah hampir jam dua belas. Kami juga sudah capek. Seharian di bandara.” Ujar mereka pasrah
Apa boleh dikata, saya pun menyetujui untuk istirahat di bandara dulu berharap esok hari mendapatkan wahyu atau ide untuk melakukan apa. Saya juga masih memikirkan nasib saya yang masih terombang-ambing juga, seperti mereka.

Kami berenam, akhirnya, memutuskan untuk beristirahat di lantai pojokan. Saya langsung saja bisa merebahkan badan dan langsung terlelap, seolah-olah acuh terhadapa masalah. Saya pun beranggapan bahwa mereka juga akan terlelap setelah hari panjang yang penuh drama, yang tidak kalah dari drama telenovela atau drama korea sekalipun.

Saya terbangun sekitar pukul setengah tiga pagi, badan merasa pegal-pegal dan lantai semakin dingin. Saya terkaget melihat mereka masih terjaga, masih melakukan pembicaraan yang saya tidak ketahui. Tak ingin mencampuri urusan mereka, saya kembali menarik selimut saya melanjutkan tidur.

“Mas-mas, bangun mas! Ga  mau Sholat Subuh dulu?” mereka membangunkanku.
“Oh, saya bukan muslim mas, jadi saya tidak Sholat. Kalau mau sholat berjamaah, silahkan. Barang-barang kalian taruh di sini saja, saya yang akan menjaga. Oiya, ada Masjid atau Musholla di Bandara?” saya menjawab mereka

Mereka sempat terdiam, dan saling melihat satu sama lain dan mereka baru sadar bahwa Sri Lanka bukanlah Indonesia yang bisa mendapatkan Musholla atau Masjid hampir di setiap pojokan. Mereka pun memutuskan untuk sholat di tempat saya tertidur, bergantian satu-satu agar tidak terlihat aneh di mata orang-orang.

Setelah mereka selesai menunaikan ibadah sholat Subuh, saya pun berinisiatif untuk menyewa kamar hotel murah di sekitar Bandara. Saya melihat gawai elektronik dan segecap mendapatkan kamar hostel dengan tiga kasur yang lokasi lumayan dekat dengan bandara seharga 600 ribu Rupiah untuk enam orang. Saya pun segera mengajak mereka untuk enyah dulu dari bandara. Mereka pun langsung mengikuti apa yang saya katakan bagaikan saya sebagai pemimpin perjalanan mereka. Kami pun naik mobil besar untuk kesana, yang hanya sekitar lima menit dari bandara.

Akhirnya mereka mengiyakan untuk tinggal di sana dan petugas hostel memperbolehkan kami untuk check in lebih awal, yang harusnya pukul sebelas siang, kami diperbolehkan untuk check in sekitar pukul enam pagi. Kami disediakan chai khas seperti halnya di tempat lain di Sri Lanka. Saya pun, yang sempat terlelap di bandara, melihat kasur langsung merobohkan badan seolah-olah badan ini berat sekali. Saya melihat yang lain juga mengistirahatkan diri mereka sembari memainkan telepon seluler mereka karena mendapatkan sambungan nirkabel.

Saya pun terbangun karena perut ini merasa lapar. Dan mereka pun masih belum tidur, atau mungkin sudah bangun dahulu, saya tidak tahu.
“Pada lapa ga semua? Ayo kita cari sarapan di sebelah. Murah-murah kok makan di sini.” Saya mengajak mereja untuk beranjak di dari kasur dan lambaian jaringan nirkabel. Langsung saja mereka mngiyakan.

“Mas, sudah pernah ke Sri Lanka? Sering jalan-jalan ke luar negri? Kok kelihatannya sudah siap sedia dan percaya diri sekali berbicara dengan orang asing.” Tanya salah satu dari mereka. Saya pun menjawab dengan senyuman sembari mengatakan, “Mas, tidak mau melihat Sri Lanka saja? Sri Lanka juga bagus, loh. Saya ini yang kedua kali kesini. Tempatnya indah-indah loh mas!.” Sembari memuji-muji Sri Lanka untuk sekedar melipur lara mereka.

Ah, kelihatannnya Sri Lanka seperti Indonesia mas, panas dan banyak sawah juga. Lagipula, saya tidak tahu apapun mengenai Sri Lanka karena memang kami tidak hendak bermain ke sini. Dan saya sepertinya tidak mau bermain ke sini lagi. Cukup sekali saja.” Ujar salah satu dari mereka.
Saya pun hanya membalas dengan anggukan kepala. Akhirnya kami berhenti di salah satu rumah makan yang di pinggir jalan. Saya pun memesan nasi dengan dhaal, sejenis lentil karena menu pagi hanya itu sa dan telur digulai. Mereka memesan makanan yang hampir mirip.

Wah, rasanya enak juga dan murah ya mas Sri Lanka. Pantesan mas balik kesini lagi.” Ujar salah satu sambil tertawa kecil.
Ternyata, pemilik rumah makan bisa berbicara bahasa arab karena selama lima tahun bekerja di Arab Saudi, dan mereka dua dari lima pemuda tadi sanggup berbicara bahasa Arab karena lulusan dari pesantren. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mereka tampak asyik sendiri. Kami berempat yang tidak bisa berbicara bahasa Arab akhirnya memesan sejenis martabak, yang saya tidak tahu namanya, untuk dibungkus di bawa ke hostel sebagai kudapan kecil.

Kami pun berjalan menuju kembali ke hostel, pemuda yang paling senior dari mereka bertanya kepada saya,
“Mas, tetap jadi ke Iran? Apa kami ikut ke Iran aja, ikut mas. Soalnya sepertinya lebih aman dan ada teman yang sudah berpengalaman bisa lebih enak.” Tanyanya kepada saya.
“Boleh saja mas, saya malah senang kalau kalian ikut ke Tehran bersama saya. Ayo nanti kita jalan-jalan. Di sana juga ada salju loh mas. Jadi, ya masih bisa lihat salju.” Jawab saya.
“Tapi mas di sana kan mau sekitar dua minggu, kami tidak bisa mas, soalnya harus bekerja lagi.” Ujarnya dengan suara yang rendah.

Sesampainya di hostel, mereka mencoba menghubungi rekan mereka di Indonesia untuk menceritakan masalah mereka berharap ada solusi yang ditawarkan. Sekian kali mencoba menghubungi, telepon tidak dijawab dan pesan whatsapp pun tidak dibalas. Mereka semakin khawatir. Saya pun mencoba membantu mereka sembari memikirkan masalah saya. Saya mencarikan tiket untuk terbang ke Medan dari Kolombo, mengingat visa mereka yang akan berakhir esok harinya. Harganya yang sekitar empat juta rupiah per orang pun terasa sangat mahal untuk mereka. Karena mereka hanya membawa uang saku sekitar dua juta rupiah per orang. Saya mnyarankan untuk meminjam teman mereka untuk kirim uang ke rekening bank mereka. Sayangnya, taksatupun dari mereka membawa rekening Bank. Saya pun secara sukarela menawarkan menggunakan rekening saya untuk mereka kirim uang. Mereka tetapi menolak menggunakannya.

Saya pun kembali memikirkan masalah saya. Akhirnya saya putuskan untuk tetap ke Iran jika harga tiket masih di bawah lima juta rupiah. Saya pun memutuskan untuk menuju agen perjalanan setelah melihat alamat dengan naik rickshaw atau Bajaj. Akhirnya saya mendapatkan tiket pulang pergi Kolombo-Tehran seharga 4,8 juta rupiah untuk penerbangan jam sembilan malam nanti, dengan penerbangan yang sama dengan penerbangan kemarin.

Jam menunjukkan pukul empat sore, saya bergegas kembali ke hostel untuk merapikan barang saya dan mencoba untuk menemukan solusi untuk saudara-saudara saya tadi.

“Mas, jadi beli tiket?” Tanya mereka
“Jadi mas! Alhamdulilah, harganya masih bisa saya bayar.” Jawab saya. “Jadinya bagaimana mas? Mau pulang ke Indonesia apa lanjut ke Turki? Saya bisa bantu sampai pukul tujuh saja nih mas soalnya saya akan terbang pukul sembilan malam. Mari saya antarkan ke pihak Turkish Airlines untuk menjelaskan semua, siapa tau ada jalan keluar semua.” Tambah saya.

Gapapa mas! Mas berangkat saja. Kami masih mencoba menghubungi rekan kami bagaimana. Lagipula kami tidak punya uang buat beli tiket ke Indonesia. Kami juga tidak mau merepotkan keluarga atau teman di Medan. Kami sudah bilang ke semua orang mau ke Turki. Tidak enak juga mas.” Salah satu dari mereka berkeluh kesah.

“Saya doakan mas nanti terbang selamat sampai Iran dan balik lagi ke Indonesia. Mari saya antar mas ke Bandara. Terima kasih telah menemani kami selama ini di Sri Lanka. Kalau tidak ada mas, mungkin kami masih luntang-lantung di Bandara. Lagian mas juga buru-buru juga.” Ujar salah satu menambahkan.

yasudah kalo begitu. Nanti tetap kabari saya apa yang terjadi. Saya tidak enak hati meninggalkan kalian di sini sendiri. Tuliskan nomer telepon seluler kalian biar bisa saya kirim pesan melalui whatsapp!.”

Mereka saling menatap satu sama lain, dan dia pun bilang, “Nomer mas saja saya simpan, lupa saya nomer telepon saya. Biar nanti saya kabari.” Ujarnya

Saya pun menuliskan nomer saya ke perangkat mereka. Saya sedikit aneh melihat perkataan mereka yang terkesan tidak mau memberikan informasi nomer telepon seluler mereka. Saya pun berfoto bareng, foto yang sampai sekarang masih terngiang di otakku dan selalu bertanya-tanya apa kabar mereka, saudara-saudaraku. Apakah mereka sudah di Medan dan melakukan perjalanan ke Turki atau kemana lagi. Saya harap semoga yang mengenal mereka, bisa menuliskan infornya kepada saya. 

Saya pun diantar dari mereka ke bandara, dan sala merasa bersalah meninggalkan mereka sendiri, dan sampai sekarang masih bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka. 

Meskipun tiket pulang pergi sudah ditangan, saya masih saja dilarang terbang dengan alasan tidak memiliki penerbangan kembali ke Indonesia. Saya pun segera menghubungi teman saya untuk membelikan saya tiket Kolombo-Jakarta. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya berhasil menghubunginya dan segera dilakukan pembayaran. Konter check in sebenarnya sudah ditutup, tetapi satu petugas ramah ini menunggu saya dan akhirnya diberikan boarding pass saya. Saya berlari menuju gerbang keberangkatan. Petugas QR berteriak-teriak “DOHA, DOHA! HURRY UP! HURRY UP!” 

Dengan napas yang terengah-engah saya mencari kursi saya. Saya kira saya adalah penumpang terakhir, ternyata masih ada dua turis dari negara Tiongkok yang baru masuk, yang ternyata turis yang saya lihat sedang asyik berbelanja sekita saya berlari-lari. Yasudahlah, drama sesi telah berakhir dan drama-drama berikutnya telah menanti. Semoga untuk perjalanan berikutnya tidak melakukannya dari Bandara Bandaranaike, sudah cukup sudah.


Dan buat kelima mas-mas tadi! Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu kembali.
-selesai-

Sabtu, 25 Maret 2017

Terjebak di Bandara(naike) di Negombo, Sri Lanka part 1




Bandara Antarbangsa Bandaranaike (http://newsfirst.lk/english/wp-content/uploads/2014/11/airport-bandaranaike.jpg)
Dilarang terbang naik pesawat ketika sudah membeli tiket adalah hal yang menakutkan buat saya. Setiap melakukan penerbangan, terutama penerbangan antarbangsa, saya selalu cermat melihat syarat-syarat yang diberlakukan oleh maskapai, Bandara, dan negara tujuan. Namun, hal tersebut terjadi kepada saya ketika saya hendak melakukan penerbangan menuju Bandara antarbang
sa Imam Khomeini (IKA) di Tehran, Iran dari Bandara Bandaranaike (iya namanya Bandaranaike dan tidak terletak di Kolombo) di Negombo, Sri Lanka. Sangat mengerikan jika saya haru mengingat kembali masa itu.

Hari itu, saya masih di Bangalore, India. Saya berencana melakukan perjalanan sekitar tiga sampai empat minggu. Saya sudah di India selama satu minggu, dan salah satu tujuan saya melakukan kunjungan ke India sudah terwujud, menikmati makanan khas India Selatan, yang merupakan makanan favorit saya. Tujuan perjalanan yang menurut beberapa orang memang kurang penting dan terkesan kurang persiapan memang adalah hal yang saya sering lakukan walaupun saya berharap untuk lebih melakukan persiapan di setiap perjalanan saya, tetapi apa boleh buat ketika sudah menginjak di tempat baru, langsung saja ide untuk melakukan perjalanan tanpa persiapan akan muncul di kepala saya dan saya pun melakukannya.

Singkat cerita, saat di Bangalore, saya tiba-tiba ingin melakukan perjalanan ke Sri Lanka. Saya pun menuju ke gawai elektronik saya untuk berselancar di dunia maya mencari tiket dari India menuju ke Sri Lanka. Setelah melalui beberapa pencarian, akhirnya saya mendapatkan penerbangan satu arah dari Bandara Chennai menuju Bandara Bandaranaike di Negombo seharga kurang-lebih satu juta rupiah (lumayan mahal untuk penerbangan sekitar satu jam ini). Tanpa pikir panjang saya pun mengambil tiket ini, selain itu waktu pemberangkatan yang cocok menurut saya, pagi hari. 

Saya menuju ke Chennai dari Bangalore menggunakan Kereta Api antarkota. Waktu itu, Chennai baru saja porak poranda karena banjir besar dan kegiatan di Kota terbesar di Tamil Nadu tersebut sempat lumpuh. Saya sempat was-was jika saja kereta saya haru mengalami keterlambatan di perjalanan. Karena menurut jadwal, kereta saya tiba di Stasiun Chennai Central pada pukul lima pagi dan penerbangan saya pada pukul setengah sembilan pagi. Ada sekitar tiga setengah jam dari stasiun kereta ke bandara. Ternyata kereta saya sampai tepat waktu dan langsung saya mencari jalan menuju ke kereta loka yang akan membawa saya ke Bandara. Akhirnya saya sampai di Bandara Chennai sekitar pukul setengah tujuh.

Proses check in sampai masuk ke pesawat hingga tiba di Bandara Bandaranaike sangat lancar. Ketika sampai di Bandara Bandaranaike, saya langsung terkesima dan menginat sekitar dua tahun lalu saya juga mendarat di bandara ini dan setahun sebelumnya saya melakukan transit di bandara ini menuju ke Karachi, Pakistan. Saya pun langsung menggunakan Bus yang mengantar saya ke terminal bus di pusat kota Kolombo (namanya Colombo Fort). Sesampai di sana, bersama teman baru yang duduk bersama saya di Bus, kami menuju rumah makan di skeitar terminal. Saya yang sudah terlalu kangen dengan makanan Sri Lanka akhirnya menuju ke sebuah rumah makan Muslim di sekitar sana. Satu piring Nasi Goreng Sri Lanka dan dua gelas chai (teh susu khas Asia Selatan) langsung saja menuju ke meja saya. 

Rencananya teman saya akan bertemu dengan saya, tetapi karena suatu hal dia harus membatalkan dan saya waktu itu cukup kecewa karena saya harus membawa tas besar saya di punggung selama perjalanan yang memang berjalan kaki akan sangat melelahkan. Sebelumnya, saya sempat mau menitipkan tas di bandara, tetapi tidakdiperbolehkan karena tas saya harus ada kancing dan kunci, sedangkan saya tidak mempunyai dan saya sempat bersikeras untuk menitipkan tas saya, tetapi tetap saja ditolak oleh penjaga di sana, walaupun sempat ada drama sedikit, tetap saja ditolak. Itulah drama pertama di Bandara Bandaranaike, dan ternyata malam harinya juga ada balada drama yang tidak kalah mencengangkan dibanding drama penitipan tas.

Saya pun menghabiskan hari saya keliling daerah Fort dan menikmati deburan ombak dan angin dari Samudra India. Saya mempunyai penerbangan menuju ke Tehran pada pukul semibilan malam. Saya sebenarnya menanti momen dimana matahari terbenam, tetapi sampai jam lima sore, Matahari tidak menampakkan akan terbenam dalam waktu dekat. Saya pun memutuskan untuk kembali ke terminal untuk naik bus kembali ke Bandara. Saya pun menyempatan untuk menuju Cargill’s, salah satu pasar toserba di Sri Lanka, untuk membeli beberapa teh Sri Lanka, yang memang sangat mendunia. Ternyata waktu belanja yang saya perkirakan selama lima menit menjadi lima belas menit karena bimbang mencari teh mana yang akan dibeli. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Saya pun berlari menuju terminal bus, yang ternyata lumayan jauh. Saya berlari dan berlari menembuh keramaian trotoar di kota Kolombo, karena jam tersebut adalah jam sibuk para pekerja pulang dan para pedagang membuka dagangan mereka, seperti halnya di Indonesia. Jalanan penuh sesak oleh manusia, dan saya dengan gembolan tas yang besar harus melawan ribuan manusia ini untuk menuju ke Terminal. Pas saya sampai di terminal, Bus menuju bandara baru saja pergi. Saya pun disuruh oleh orang disana untuk mengejar busnya, untungnya bus terkena macet dan saya bisa mendapatkan bus itu (bus menuju Badara ada setiap tiga puluh menit sekali). Keberuntungan saya berlanjut ketika tinggal ada satu kursi kosong dan tanpa pikir panjang saya mengambil tempat duduk itu. Ternyata jalur menuju Bandara dari Terminal melewati pasar tumpah (Sejenis pasar tumpah kalau di Indonesia, saya tidak tahu harus menyebutnya apa) dan bus harus berjalanan sangat pelan sekali. Saya pun sekejap berubah menjadi pribadi yang taat beragama, mulut saya tidak berhenti berkumat-kamit mengucapkan doa, untungnya saya tidak mengucapkan doa makan. Kemacetan makin menjadi-jadi, saya semakin khawatir akan ketinggalan pesawat saya, karena maskapai Qatar Airways dikenal sangat patuh tepat waktu dalam menutup gerbang masuk ke Pesawat (tidak heran jika dinobatkan sebagai Maskapai terbaik dunia dua kali berturut-turut). Doa saya pun dijaban oleh yang Di Atas. Bus masuk jalan bebas hambatan dan kurang dari lima belas menit saja sudah sampai di Bandara. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah delapan malam. Saya pun segera berlari menuju check in. Atrian panjang di semua konter membuat saya menunggu sembari berselancar di dunia maya. Sebagi informasi, Bandaranaike menyediakan layanan nirkabel gratis, namun setiap lima belas sekali akan mati dan harus menghubungkan kembali.

Saya pun mendapat giliran saya. Terjadilah percakapan antara saya dan petugas check in
“Tuan, Ada tiket kembali ke Negara Anda?” Tanya Petugas
“Saya belum beli tiket untuk pulang karena saya berencana melakukan perjalanan ke Turki lewat bus dari Iran.” Jawab saya tenang
Dia pun mengutak-atik di komputernya, kemudian dia bilang,
“Maaf Tuan, untuk Visa on Arrival ke Iran, pemegang paspor Indonesia harus memiliki tiket keluar Iran dan menuju negara Indonesia.”
Saya pun terkejut, “Seperti itu? Saya kemarin sebelumnya mengirim surat elektronik ke Kedutaan Besar Iran di Indonesia dan mereka bilang bahwa saya tidak perlu tiket pulang pergi.” Saya menjawab dengan penuh kebohongan.

Apakah berhasil? Tidak….

Petugas pun memanggil manajer darat maskapai Qatar Airways dan mempersilahkan saya untuk minggir sebentar. Sang manajer masih sibuk karena ada beberapa penumpang lain yang bermasalah, dan saya dengan tenang dan pikiran positif bakal mendapatkan Boarding Pass ke Tehran. Di konter sebelah, ada Maskapai Turkey Airlines, dan ada penumpang yang ditolak juga untuk terbang dan disuruh untuk minggir sebentar. Saya yang sebenarnya kurang peduli karena saya juga masih belum pasti bisa terbang tiba-tiba terkejut mendengar percakapan antarpenumpang Turkey Airlines yang ditolak tadi menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Sumatera.

Bah, Macam apa ini kita dilarang terbang? Kita harus berbicara kepada petugasnya!” kata salah seorang dari empat orang tadi.
Saya yang merasa terpanggil karena ada saudara setanah air mengalami hal yang sama langsung menyapa mereka,
“Ada apa mas? Saya juga dilarang terbang nih mas!” Kata Saya sembari mencoba membahagiakan mereka.
“Oh iya mas? Mau ke Istanbul juga? “ Tanya salah satu dan mereka
“Bukan Mas, saya naik Qatar Airways mau ke Iran.”
“Oh gitu mas!” Jawab mereka bagaikan paduan suara.
Saya pun meninggalkan mereka (sejenak) untuk bertemu dengan Manajer QR (kode untuk Qatar Airways).
“Maaf, Tuan! Anda tidak diijinkan terbang ke Iran jika Anda tidak memiliki tiket kembali. Karena ini aturan yang dibuat oleh pihak Imigrasi Iran.” Katanya mantap tanpa menoleh kepadaku.

Ternyata keberuntungkan berhenti di sini. Saya tiba-tiba melakukan seatu yang di luar kehendak saya. Sesuatu yang membuatku malu. Terinspirasi film Bollywood yang penuh drama, yang biasanya terjadi di Bandara-Bandara, saya pun menepuk pundak ptugas tadi dan berbicara,

“Saya Mohon, saya akan menanggung semua akibatnya jika saya dilarang masuk Iran. Tugas Anda Cuma memberikan saya boarding pass itu, Saya Mohon!” ujar saya mengemis-emis kepadanya
“Maaf Tuan, kami tetap tidak bisa mengijinkan Anda Untuk terbang. Maaf saya harus kembali ke kantor karena pesawat akan persiapan untuk lepas landas.” Ujarnya

Dia pun berpaling dan berjalan menuju ke kantornya. Saya yang tidak puas dengan penjelasaanya mengejarnya, seperti di film-film India. Mungkin saya dia merasa terganggu, dia pun berteriak memanggil petugas keamanan di Bandara untuk mengusirku.
“Hentikan dan jangan membuat gaduh di Bandara! Saya akan benar-benar memanggil Petugas keamanan untuk mengusir Anda! Anda benar-benar membuat saya marah.” Dia langsung saja meninggalkanku yang berdiri lemas, dan dia berbicara dengan salah seorang petugas kemanan bandara.

Saya pun takberdaya utuk mengejarnya karena petugas keamanan menatapku tajam. Saya pun berjalan gontai, lemas, sangat tidak bersemangat mengingat konter check in sudah ditutup dan waktu hampir menujunkkan pukul sembilan malam.

Saya mencari tempat duduk sembari mengingat kesalahan-kesalahan apa yang telah saya perbuat dan mencoba mebuat rencana baru, apakah kembali meneruskan perjalanan ke Iran, kembali ke India, atau pulang ke Jakarta karena untuk tinggal lebih lama di Sri Lanka sangat tidak mungkin karena visa transit saya hanya mengijinkan saya untuk menetap di Sri Lanka selama 48 jam saja.
Saya terduduk lemas, capek dan kecewa serta sedih bercampur menjadi satu. Kaki ini pun mulai meminta untuk diluruskan. Tiba-tiba saya terkejut, sesuatu hal terjadi (hal yang menjadi sangat emosial untuk saya).

Bersambung......

Kamis, 01 Desember 2016

Trekking To Seydozero, Murmansk (part 1)



midnight in Murmanks, sun still loved shining


I had been in city of Murmansk for 3 days 2 nights, but I wasn’t ready enough to leave the artic city. I still wanted to enjoy the polar day, a phenomenon happens only in the northernmost and southernmost area of the earth where the Sun forgets to set. The idea was to visit Lovozero, a small town in the Kola Peninsula where is famous for its Sami culture and some impressive lakes.. After some research, I found the budget way to reach there from Murmansk, by bus. I ventured to the Murmansk Train Station, which acts also as the bus terminal, to catch minibus to Lovozero. The information I obtained didn’t tell me the schedule of the bus, so I had to figure it out myself.

The place that I stayed was a little bit far from the train station, about 50 minutes away by trolley bus or minibus (Murmansk isn’t BIG, but it is very long city). I left at around 11 am to aim reaching there at midday. The bus was excellent and cheap, about 20 RUB. To reach train station was easy because the train station is located in the heart of the city and most of the buses will pass through, so catching the right bus wasn’t a problem at all.

daytime at Arctic circle during the day
As expected, I arrived before the midday, and started wandering around to find the bus stall. After asking several people, with my broken Russian when it was enough to ask basic questions but wasn’t enough to receive the overwhelming answer, I finally found my bus to Lovozero. It was actually a minibus. It was written “REVDA LOVOZERO “with cellular number. And it was the only bus with lovozero sign. The doors were perfectly closed; it seemed that the bus would not be leaving anytime soon. I asked around about they told me the bus would leave at 3 pm. I had to wait about 3 hours and I was anxious about the schedule, I reluctantly called the number and surprisingly a lady picked up the phone. 

(The actual conversation was conducted in Russian)
“Hello! I want to ask you about the departure time for lovozero-bound bus?”
sacbwugciwvcye 3pm bcuvcuw uwvcu” (she spoke very fast Russian, I didn’t get anything, just something at 3 pm)
“Excuse me, I do not speak Russian, can you text me instead about the time?”
Then the call dropped.

In few seconds after the call I got a confirmation schedule and no reservation needed for the minibus.

Since I got 3 hours of waiting, somebody told me that to go to Seydozero (another lake) was much more worth it. I, moreover, had a set of a tent to camp. I listened to him with great intention. I began researching the place and it was beautiful and I only needed to go to Revda and continue by trekking. That’s brilliant idea as I really wanted to do trekking. 

Murmansk Train Station
In order to realize the new plan, I armed myself with some foods as I was food hands-free. I went to the nearest supermarket to get some waters, fruits, snacks, and biscuits. I was thinking to cook something, so I decided to buy matches, beers (that the can I can use to cook or heat), and a canned tuna. All was set. Then I entered the McDonald’s store to get BigMac for arming myself with fast food in case I felt hunger and need a quick food.

I returned to the bus stall at 2.30 pm and get my seat confirmed. It cost me 220 RUB (June 2015). I took the front seat together with the driver. The bus was full because only 2 buses per day to Revda at weekdays, at 8am and 3 pm. The journey took about 2 hours. The road was so empty, no traffic jams at all. The long road with wetlands, rivers, and lakes were the unmissed views for me. It was the real serenity for me. I imagined how people travelled during the winter days here. I, however, felt asleep because I was a sit-sleep person. 

Then I arrived in Revda and the minibus continued to Lovozero. I checked the maps (yes the internet was still working in Revda) to get the right direction to the lake. But the maps couldn’t work that time because the internet was too slow to work. I was in trouble as seems there was nobody at the street. It was 5 pm, but the sun still shined brightly as if it was 1 pm, that one the one pro for me as I didn’t to worry about the dark. I followed my intuition to walk to one direction, and then I met an old guy.

“is this the correct direction to Seydozero?” I asked
“yes! Just go straight, do not turn! You will reach the registration office.” He replied

After the thanks to him, I felt so relieved. It seemed nobody walked there, as I heard there was an iron mining factory up there. I assumed because it wasn’t weekend so there was no trekkers going or if they did so, they should have done it earlier, not at 5 pm like me. Based the information, I needed to walk 8 km to reach the registration office before I started the real trekking. 

Revda-Iron Factory road
The 8-kilometers walking was easy because it was plain and the weather was cool enough. The sweat was almost unheard during my walk. There was no car passing the same direction as I did. I just met some mining workers who just returned to Revda from the factory. They looked at me suspiciously, maybe. I was walking alone with big backpack. A dark Asian man walking to this road probably wasn’t normal in this area, and I knew that. I kept going. After about 1 hour, I saw the factory few meters away and it was one of the happiest moments that time. I stopped for a while to get my throat wet with my mineral water. Then a bus, apparently the bus from Revda to the factory, just passed me with some passengers. I was angry to myself why I didn’t take bus instead of 1 hour walking so I could save up the energy for another 12-kilometer trekking to reach the lake. I walked aimlessly to reach the registration office.



Halfway, when i wasn't tired enough
I had to call the officer to get myself registered. As always, he talked to me in Russian (well, I am I Russia anyway) and I hardly responded him. I just wrote my details with the duration to stay there, I just wrote 2 days (as I planned to return the next day). There was no money involved in my registration. The pro thing was the sun still forgot to set even though it was almost 6.30 pm. Then the real trek happened.

gloomy sky when I arrived the factory
 
Tips to reach Revda from Murmansk (June 2015):

Walk or take any bus to Train Station  20RUB
Take a minibus to Revda (220 RUB)
Take A bus (10 minutes drives) to factory if you do not want to walk 20 RUB
Entrance free 0 RUB

    
To be continued