Sabtu, 25 Maret 2017

Terjebak di Bandara(naike) di Negombo, Sri Lanka part 1




Bandara Antarbangsa Bandaranaike (http://newsfirst.lk/english/wp-content/uploads/2014/11/airport-bandaranaike.jpg)
Dilarang terbang naik pesawat ketika sudah membeli tiket adalah hal yang menakutkan buat saya. Setiap melakukan penerbangan, terutama penerbangan antarbangsa, saya selalu cermat melihat syarat-syarat yang diberlakukan oleh maskapai, Bandara, dan negara tujuan. Namun, hal tersebut terjadi kepada saya ketika saya hendak melakukan penerbangan menuju Bandara antarbang
sa Imam Khomeini (IKA) di Tehran, Iran dari Bandara Bandaranaike (iya namanya Bandaranaike dan tidak terletak di Kolombo) di Negombo, Sri Lanka. Sangat mengerikan jika saya haru mengingat kembali masa itu.

Hari itu, saya masih di Bangalore, India. Saya berencana melakukan perjalanan sekitar tiga sampai empat minggu. Saya sudah di India selama satu minggu, dan salah satu tujuan saya melakukan kunjungan ke India sudah terwujud, menikmati makanan khas India Selatan, yang merupakan makanan favorit saya. Tujuan perjalanan yang menurut beberapa orang memang kurang penting dan terkesan kurang persiapan memang adalah hal yang saya sering lakukan walaupun saya berharap untuk lebih melakukan persiapan di setiap perjalanan saya, tetapi apa boleh buat ketika sudah menginjak di tempat baru, langsung saja ide untuk melakukan perjalanan tanpa persiapan akan muncul di kepala saya dan saya pun melakukannya.

Singkat cerita, saat di Bangalore, saya tiba-tiba ingin melakukan perjalanan ke Sri Lanka. Saya pun menuju ke gawai elektronik saya untuk berselancar di dunia maya mencari tiket dari India menuju ke Sri Lanka. Setelah melalui beberapa pencarian, akhirnya saya mendapatkan penerbangan satu arah dari Bandara Chennai menuju Bandara Bandaranaike di Negombo seharga kurang-lebih satu juta rupiah (lumayan mahal untuk penerbangan sekitar satu jam ini). Tanpa pikir panjang saya pun mengambil tiket ini, selain itu waktu pemberangkatan yang cocok menurut saya, pagi hari. 

Saya menuju ke Chennai dari Bangalore menggunakan Kereta Api antarkota. Waktu itu, Chennai baru saja porak poranda karena banjir besar dan kegiatan di Kota terbesar di Tamil Nadu tersebut sempat lumpuh. Saya sempat was-was jika saja kereta saya haru mengalami keterlambatan di perjalanan. Karena menurut jadwal, kereta saya tiba di Stasiun Chennai Central pada pukul lima pagi dan penerbangan saya pada pukul setengah sembilan pagi. Ada sekitar tiga setengah jam dari stasiun kereta ke bandara. Ternyata kereta saya sampai tepat waktu dan langsung saya mencari jalan menuju ke kereta loka yang akan membawa saya ke Bandara. Akhirnya saya sampai di Bandara Chennai sekitar pukul setengah tujuh.

Proses check in sampai masuk ke pesawat hingga tiba di Bandara Bandaranaike sangat lancar. Ketika sampai di Bandara Bandaranaike, saya langsung terkesima dan menginat sekitar dua tahun lalu saya juga mendarat di bandara ini dan setahun sebelumnya saya melakukan transit di bandara ini menuju ke Karachi, Pakistan. Saya pun langsung menggunakan Bus yang mengantar saya ke terminal bus di pusat kota Kolombo (namanya Colombo Fort). Sesampai di sana, bersama teman baru yang duduk bersama saya di Bus, kami menuju rumah makan di skeitar terminal. Saya yang sudah terlalu kangen dengan makanan Sri Lanka akhirnya menuju ke sebuah rumah makan Muslim di sekitar sana. Satu piring Nasi Goreng Sri Lanka dan dua gelas chai (teh susu khas Asia Selatan) langsung saja menuju ke meja saya. 

Rencananya teman saya akan bertemu dengan saya, tetapi karena suatu hal dia harus membatalkan dan saya waktu itu cukup kecewa karena saya harus membawa tas besar saya di punggung selama perjalanan yang memang berjalan kaki akan sangat melelahkan. Sebelumnya, saya sempat mau menitipkan tas di bandara, tetapi tidakdiperbolehkan karena tas saya harus ada kancing dan kunci, sedangkan saya tidak mempunyai dan saya sempat bersikeras untuk menitipkan tas saya, tetapi tetap saja ditolak oleh penjaga di sana, walaupun sempat ada drama sedikit, tetap saja ditolak. Itulah drama pertama di Bandara Bandaranaike, dan ternyata malam harinya juga ada balada drama yang tidak kalah mencengangkan dibanding drama penitipan tas.

Saya pun menghabiskan hari saya keliling daerah Fort dan menikmati deburan ombak dan angin dari Samudra India. Saya mempunyai penerbangan menuju ke Tehran pada pukul semibilan malam. Saya sebenarnya menanti momen dimana matahari terbenam, tetapi sampai jam lima sore, Matahari tidak menampakkan akan terbenam dalam waktu dekat. Saya pun memutuskan untuk kembali ke terminal untuk naik bus kembali ke Bandara. Saya pun menyempatan untuk menuju Cargill’s, salah satu pasar toserba di Sri Lanka, untuk membeli beberapa teh Sri Lanka, yang memang sangat mendunia. Ternyata waktu belanja yang saya perkirakan selama lima menit menjadi lima belas menit karena bimbang mencari teh mana yang akan dibeli. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Saya pun berlari menuju terminal bus, yang ternyata lumayan jauh. Saya berlari dan berlari menembuh keramaian trotoar di kota Kolombo, karena jam tersebut adalah jam sibuk para pekerja pulang dan para pedagang membuka dagangan mereka, seperti halnya di Indonesia. Jalanan penuh sesak oleh manusia, dan saya dengan gembolan tas yang besar harus melawan ribuan manusia ini untuk menuju ke Terminal. Pas saya sampai di terminal, Bus menuju bandara baru saja pergi. Saya pun disuruh oleh orang disana untuk mengejar busnya, untungnya bus terkena macet dan saya bisa mendapatkan bus itu (bus menuju Badara ada setiap tiga puluh menit sekali). Keberuntungan saya berlanjut ketika tinggal ada satu kursi kosong dan tanpa pikir panjang saya mengambil tempat duduk itu. Ternyata jalur menuju Bandara dari Terminal melewati pasar tumpah (Sejenis pasar tumpah kalau di Indonesia, saya tidak tahu harus menyebutnya apa) dan bus harus berjalanan sangat pelan sekali. Saya pun sekejap berubah menjadi pribadi yang taat beragama, mulut saya tidak berhenti berkumat-kamit mengucapkan doa, untungnya saya tidak mengucapkan doa makan. Kemacetan makin menjadi-jadi, saya semakin khawatir akan ketinggalan pesawat saya, karena maskapai Qatar Airways dikenal sangat patuh tepat waktu dalam menutup gerbang masuk ke Pesawat (tidak heran jika dinobatkan sebagai Maskapai terbaik dunia dua kali berturut-turut). Doa saya pun dijaban oleh yang Di Atas. Bus masuk jalan bebas hambatan dan kurang dari lima belas menit saja sudah sampai di Bandara. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah delapan malam. Saya pun segera berlari menuju check in. Atrian panjang di semua konter membuat saya menunggu sembari berselancar di dunia maya. Sebagi informasi, Bandaranaike menyediakan layanan nirkabel gratis, namun setiap lima belas sekali akan mati dan harus menghubungkan kembali.

Saya pun mendapat giliran saya. Terjadilah percakapan antara saya dan petugas check in
“Tuan, Ada tiket kembali ke Negara Anda?” Tanya Petugas
“Saya belum beli tiket untuk pulang karena saya berencana melakukan perjalanan ke Turki lewat bus dari Iran.” Jawab saya tenang
Dia pun mengutak-atik di komputernya, kemudian dia bilang,
“Maaf Tuan, untuk Visa on Arrival ke Iran, pemegang paspor Indonesia harus memiliki tiket keluar Iran dan menuju negara Indonesia.”
Saya pun terkejut, “Seperti itu? Saya kemarin sebelumnya mengirim surat elektronik ke Kedutaan Besar Iran di Indonesia dan mereka bilang bahwa saya tidak perlu tiket pulang pergi.” Saya menjawab dengan penuh kebohongan.

Apakah berhasil? Tidak….

Petugas pun memanggil manajer darat maskapai Qatar Airways dan mempersilahkan saya untuk minggir sebentar. Sang manajer masih sibuk karena ada beberapa penumpang lain yang bermasalah, dan saya dengan tenang dan pikiran positif bakal mendapatkan Boarding Pass ke Tehran. Di konter sebelah, ada Maskapai Turkey Airlines, dan ada penumpang yang ditolak juga untuk terbang dan disuruh untuk minggir sebentar. Saya yang sebenarnya kurang peduli karena saya juga masih belum pasti bisa terbang tiba-tiba terkejut mendengar percakapan antarpenumpang Turkey Airlines yang ditolak tadi menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Sumatera.

Bah, Macam apa ini kita dilarang terbang? Kita harus berbicara kepada petugasnya!” kata salah seorang dari empat orang tadi.
Saya yang merasa terpanggil karena ada saudara setanah air mengalami hal yang sama langsung menyapa mereka,
“Ada apa mas? Saya juga dilarang terbang nih mas!” Kata Saya sembari mencoba membahagiakan mereka.
“Oh iya mas? Mau ke Istanbul juga? “ Tanya salah satu dan mereka
“Bukan Mas, saya naik Qatar Airways mau ke Iran.”
“Oh gitu mas!” Jawab mereka bagaikan paduan suara.
Saya pun meninggalkan mereka (sejenak) untuk bertemu dengan Manajer QR (kode untuk Qatar Airways).
“Maaf, Tuan! Anda tidak diijinkan terbang ke Iran jika Anda tidak memiliki tiket kembali. Karena ini aturan yang dibuat oleh pihak Imigrasi Iran.” Katanya mantap tanpa menoleh kepadaku.

Ternyata keberuntungkan berhenti di sini. Saya tiba-tiba melakukan seatu yang di luar kehendak saya. Sesuatu yang membuatku malu. Terinspirasi film Bollywood yang penuh drama, yang biasanya terjadi di Bandara-Bandara, saya pun menepuk pundak ptugas tadi dan berbicara,

“Saya Mohon, saya akan menanggung semua akibatnya jika saya dilarang masuk Iran. Tugas Anda Cuma memberikan saya boarding pass itu, Saya Mohon!” ujar saya mengemis-emis kepadanya
“Maaf Tuan, kami tetap tidak bisa mengijinkan Anda Untuk terbang. Maaf saya harus kembali ke kantor karena pesawat akan persiapan untuk lepas landas.” Ujarnya

Dia pun berpaling dan berjalan menuju ke kantornya. Saya yang tidak puas dengan penjelasaanya mengejarnya, seperti di film-film India. Mungkin saya dia merasa terganggu, dia pun berteriak memanggil petugas keamanan di Bandara untuk mengusirku.
“Hentikan dan jangan membuat gaduh di Bandara! Saya akan benar-benar memanggil Petugas keamanan untuk mengusir Anda! Anda benar-benar membuat saya marah.” Dia langsung saja meninggalkanku yang berdiri lemas, dan dia berbicara dengan salah seorang petugas kemanan bandara.

Saya pun takberdaya utuk mengejarnya karena petugas keamanan menatapku tajam. Saya pun berjalan gontai, lemas, sangat tidak bersemangat mengingat konter check in sudah ditutup dan waktu hampir menujunkkan pukul sembilan malam.

Saya mencari tempat duduk sembari mengingat kesalahan-kesalahan apa yang telah saya perbuat dan mencoba mebuat rencana baru, apakah kembali meneruskan perjalanan ke Iran, kembali ke India, atau pulang ke Jakarta karena untuk tinggal lebih lama di Sri Lanka sangat tidak mungkin karena visa transit saya hanya mengijinkan saya untuk menetap di Sri Lanka selama 48 jam saja.
Saya terduduk lemas, capek dan kecewa serta sedih bercampur menjadi satu. Kaki ini pun mulai meminta untuk diluruskan. Tiba-tiba saya terkejut, sesuatu hal terjadi (hal yang menjadi sangat emosial untuk saya).

Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar